Tampilkan postingan dengan label Rumahku Surgaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumahku Surgaku. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 April 2010

zafiq dua bulan

Alhamdulillah nggak kerasa zafiq dah 2 bulan...
dah bisa berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya...
ketika bundanya lagi ngaji, zafiq jg ikutan ngaji, hehe..
ni video buat aby zafiq yg lg di Manna, Download Zafiq

Jumat, 10 Juli 2009

Masih Bulan Pertama


Jika usia kehamilan dihitung dari terakhir hari terakhir datang bulan, berarti usia kehamilanku... hmmm.. brp ya...?
ooh 1 bulan 8 hari.. yah mungkin kira2 usia kehamilanku segitu. Tapi Alhamdulillah sampai saat ini ngidamku nggak macem2. Cuman pengen yang asem2, yang seger, yang pedas. Padahal sebelum hamil ga suka yang asem2, yang pedas. Selain itu ngidam maless nya minta ampun, pengennya tiduran. Mungkin karena kondisi fisik juga yg darah rendah, jadi cepet capek, cepet lemes.. Kasian juga suami harus menghendel beberapa pekerjaanku. Semoga bersabar ya a menghadapi ibu hamil..:) Love U

Alhamdulillah, Positif!!



Setelah sekian lama berikhtiar, berdo'a dan menunggu akhirnya Alloh swt. mengabulkan do'a kami.
Setelah 10 hari datang bulang tak kunjung datang, dan seringnya mual, pusing, dan juga lemas, akhirnya saya diperiksa ke bidan. Setelah diperiksa, Alhamdulillah ternyata positif hamil. Yang tadinya badan lemas, ga bergairah, dgn tahu bahwa sy sedang berbadan dua, rasa lemas itupun lupa, karena tertutupi dengan rasa bahagia yang tidak terkira. Wajah suamipun ceria.. sepulangnya dari bidan, suami mengajak kami sholat dan diteruskan dengan membaca Surat Yaa Sin, diakhiri dengan do'a "semoga kami mampu menjaga dan mengemban amanah yang Engkau titipkan ini, dan diberikan keberkahan dan keselamatan dalam masa kehamilan hingga sampai mendidiknya kelak"

Senin, 25 Mei 2009

Tiga Hari Tanpamu


Setiap pagi, semangat senantiasa hingga di jiwaku mengiringi aktivitas pekerjaan Rumah Tangga. Tapi hari ini berbeda. Untuk melangkahkan kaki ke dapurpun rasanya enggan dan malas. Mungkin ini dikarenakan wajah yang senantiasa kutatap tatkala hendak tidur dan bangun dari tidur, sekarang tidak kutemui. Tangan yang senantiasa menggoyang-goyangkan kaki menyuruhku bangun untuk Sholat Malam atau Sholat Subuh, hari ini tak kutemui lagi tangan itu. Harum badan yang membuatku senantiasa ingin mendekapnya setiap saat, hari ini ku tak bisa mencium bau nya.Semuanya tak bisa kutemui lagi setidaknya InsyaAllah sampai tiga hari ke depan... Tapi rasanya baru sehari saja, ku sudah kehilangan semangat. Setiap hari ku semangat memasak, ada suami yang senantiasa menyambut, jika rumah beres dan rapi tidak hanya aku saja yang merasakan, tapi suami juga akan merasa nyaman berada di rumah. Tapi hari ini rasanya malas sekali masak, membereskan rumah karena orang yang senantiasa menyambut dan menyantap makananku sedang absen, orang yang selalu menemaniku di rumah juga tidak ada...

Benarlah Firman Allah...
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berfikir” (Q.S,Ar Ruum: 21).

"Istri-istri kamu adalah pakaianmu dan kamu adalah pakaian mereka" (Q.S. Al Baqarah : 187)

suamiku... cepatlah pulang, dinda rindu belaianmu, kasihmu, canda tawamu...

pintaku...
Ya Allah... jadikan ikatan cinta dan kasih sayang diantara kami adalah ikatan cinta karena-Mu, supaya kami tergolong ke dalam orang yang saling menyayangi di dunia dan di akhirat. Karena hanya cinta yang dilandasi karena-Mu lah, cinta yang bisa menembus ruang dan waktu

Selasa, 28 April 2009

BAHAGIANYA MENJADI SEORANG IBU



Mungkin kita sering mendengar “syurga berada di bawah telapak kaki ibu”. Ini menunjukkan bahwa posisi seorang ibu sungguh amat mulia, memiliki kedudukan yang istimewa. Namun, sangat disayangkan, seringkali kita melihat posisi yang amat mulia itu tidak dioptimalkan. Bahkan tidak sedikit seorang Ibu meremehkan peran ini.
Memang di era seperti sekarang ini, ketika kapitalisme, liberalisme, matrealisme menyusup ke dalam celah-celah kehidupan keluarga muslim. Mulai ada ide-ide atau konsep yang mengganggu kenyamanan keluarga muslim yang hendak mewujudkan profil keluarga muslim. Misalnya, pemikiran moderat yang menilai peran keibuan menghalangi perempuan untuk eksis di dunia publik, mereka mempertentangkan peran ibu dengan peran publik. Selain itu kapitalisme juga mendorong perempuan untuk full di luar untuk bekerja.
Untuk para ibu atau calon ibu, mungkin kita perlu merenung sejenak. Apa sebenarnya yang kita cari di dunia ini? Apakah hidup kita ini akan selamanya? Jika jawabannya ternyata hidup kita sementara di dunia ini, lantas apakah kita masih punya harapan untuk mengakhiri hidup kita dengan baik? Akhir yang baik tentu harus menjadi orang yang baik. Bagaimana menjadi orang yang baik? Apa amal utama bagi seorang muslimah? Sehingga kita senantiasa memprioritaskan amal yang memang layak untuk diprioritaskan. Disinilah perlunya kita mengkaji Islam. Ternyata Islam sangat memperhatikan peran ibu ini.
Untuk mengetahui apakah kita sudah menjalankan peran ibu ini dengan baik apa belum, tentu kita harus mempunyai tolak ukur atau kriteria menjadi seorang ibu yang baik. Kriteria ibu yang baik adalah dengan cara menjalankan kewajiban sebagai seorang ibu. Dan kewajiban ini merupakan peran pokok muslimah yang utama. Jika ditinggalkan akan berdosa, sebaliknya jika dijalankan dengan baik maka akan mendapat pahala yang besar, dari pada berkarir. Diantara kewajiban ibu itu antara lain,
• Menjaga atau merawat kehamilan
• Melahirkan
• Menyusui
• Mengasuh anak kecil
• Mendidik pada usia dini
Ketika mengabaikan peran-peran tersebut, maka criteria menjadi ibu yang baik belum tercapai. Apalagi meninggalkan kewajiban untuk mengejar yang mubah yang jelas tidak akan mendapat apa-apa dari karirnya, malah bias jadi yang didapat adalah dosa karena telah melalaikan kewajiban.
Supaya kita dapat menjadi seorang ibu yang baik, tentu kita harus memiliki motivasi diri yang dapat mendorong kita melakukan kewajiban terseut dengan maksimal. Yaitu dengan belajar, bagaimana Islam memberikan arahan kepada seorang Ibu. Dalam nash-nash Al-Quran dan dalam Al Hadist bayak pujian dan penghormatan Islam bagi peran Ibu. Misalnya, jika di kantor kita tau bahwa atasan akan memberikan gaji 2 kali lipat jika kita dapat menyelesaikan pekerjaan secepatnya. Tentu kita akan bersungguh2, karena kita tahu kita akan mendapatkan gaji/materi dua kali lipat dalam satu waktu. Ini adalah motivasi materi. Begitu juga denga peran ibu ini, jika kita tahu apa yang akan diberikan Sang Pencipta terhadap peran ibu ini, tentu kita akan sekuat tenaga meraihnya dan menjalankan amanah ini dengan sebaik mungkin.
Misalnya untuk yang hamil, dalam sebuah hadist disebutkan, “apabila seorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah malaikat untuknya, Allah SWT mencatatkan baginya 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan.” (Al-Hadist)
Untuk muslimah yang akan melahirkan, dalam sebuah hadist pula disebutkan “apabila seorang perempuan mulai sakit hendak melahirkan, makak Allah SWT mencatatkan baginya pahala bagaikan orang yang berjihad di jalan Allah (fisabilillah)”
Untuk muslimah yang sedang/sudah melahirkan, “apabila seseorang perempuan melahirkan anak, maka keluarlah ia dari dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya”
Kemudian ketika si Ibu mulai menyusui, “setiap 1 tegukan dari pada susunya maka ia diberikan 1 kebaikan” waah subhanallah berapa tegukan yang diminum seorang bayi dalam 2 tahun penuh??
Ketika seorang Ibu mulai mengasuh, “ketika seorang ibu semalaman tidak tidur karena memelihara anaknya yang lagi sakit maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah”
Maha Suci Allah, kalau kita melihat seperti ini, pasti setiap muslimah akan besungguh-sungguh. Karena melihat begitu besar janji Allah SWT bagi orang-orang yang menjalankan peran ibu dengan sebaik-baiknya. Tidak setara dengan gaji yang didapat setiap bulan, pasti dia tidak rela menukar dengan dunia dan segala isinya ini karena Syurga itu lebih baik dari pada dunia dan segala isinya.

--Resume Voice of Islam edisi 24 April 2009, rubrik sakinah--

Minggu, 05 April 2009

AGAR HARTA TIDAK MENJADI FITNAH



Tidak bisa dipungkiri, harta sesuatu yang penting (kalau tidak bisa dibilang sangat penting) apalagi untuk sebuah keluarga, karena memang kehidupan keluarga tidak bisa ditunjang tanpa adanya harta.
Bahkan dalam Al-quran sendiri sudah mengisyaratkan tentang hal itu dalam surat Ali-Imron : 14 yang artinya “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-permpuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik”
Jadi sesungguhnya Allah menjadikan indah pada segala hal, yg memang itu layak dijadikan kita suka. Dari lawan jenis, anak, dan termasuk harta. Nah kadang masalah harta ini,kita melihatnya tidak proposional. Kalau boleh dibilang… ada ”ekstrim kiri” ada pula yang “ekstrim kanan”. Padahal kan sesungguhnya agama kita ini wasatiya, dia berada di tengah-tengah. Ada orang yang benar-benar menolak harta dengan asumsi : udahlah kita kan diperintahkan untuk zuhud, diperintahkan untuk menjauhi. Karena memang banyak sekali ayatnya yang mengatakan bahwa kehidupakan dunia itu kan Matta (Cuma perhiasan), dan matta itu sebentar, setelah itu, sudah, berakhir, dan akhirat itu tempat kita yang kekal.
Tapi ada juga yang sebaliknya, pola hidup yang hedonisme, matreliasme, pola hidup yang luar biasa, dimana tuntutannya itu membuat orang segala cara dihalalkan untuk mendapatkan harta, sampai ada yang mengatakan “janganlah untuk mencari yang halal, yang haram aja susah” . Sehingga yang namanya suap, korupsi dan sejenisnya akhirnya itu muncul awalnya dari rumah.
Kita kan salah satu umat yang sesungguhnya ingin berada di tengah, jadi ingin mengharapkan sesuatu yang itupun dihalalkan oleh Allah atau justru sebaliknya tidak ada hal-hal yang haram. Sebagaimana dulu para isteri dari kaum Salafusholih ketika suaminya mau berangkat, berangkatlah untuk bekerja, berangkatlah untuk berjihad, dan carilah harta yang halal, karena ketika engkau pulang dengan membawa harta yang tidak halal kami tidak akan tahan menahan siksanya nanti di akhirat, sementara ketika kami harus kelaparan sehari dua hari di dunia, InsyaAllah kami kuat.
Jadi tolonglah proposional. Karena sesungguhnya tidak ada pertentangan antara si kaya dan si miskin. Jadi kalo misalnya ada cerita yang kaya benci sama si miskin, atau sebaliknya si miskin nggak mau bergaul dengan si kaya karena ngga mau dihina atau diejek. Sesungguhnya dalam Islam tidak ada klasifikasi seperti itu, justru keberadaan kita itu untuk saling tolong menolong.
Dan banyak sekali hadist yang mengatakan bahwa yang namanya harta itu nikmal ‘aunu ‘ala taqwallahil ghina yang artinya harta kekayaan adalah sebaik-baik penolong bagi pemeliharaan ketaqwaan kepada Allah. Jadi justru dengan harta kita bisa semakin dekat dengan Allah. Dan banyak sekali perintah syari’at yang sesungguhnya mengisyaratkan kita supaya kita itu kaya. Kalau kita ambil contoh dari RUkun Islam. Yang pertama, Syahadat, itu tidak butuh harta dunia. Kedua, Sholat, itu juga sesungguhnya tidak butuh harta kecuali memang kita membutuhkan penutup aurat. Dan itu pun tidak harus baru setiap kali ‘Idul Fitri, ganti mukena. Ketiga, Puasa, ini juga sebenarnya tidak butuh biaya, tapi kadang-kadang kita suka salah kaprah, justru pada saat bulan Ramadhan pengeluarannya jadi membengkak, padahal semestinya nggak boleh begitu, membengkak untuk infaq dan zakat bolehlah. Yang keempat, zakat, infaq, ini sudah mulai kita harus sudah punya harta. Dan yang kelima, naik haji. orang harus kaya kalau dia pingin menunaikan ibadah haji.
Ini berarti memang ada isyarat-isyarat Syari’ah yang menuntut kita untuk menjadi kaya. Jadi proprosinal lah kita. Jangan sampai harta yang ada di tangan kita menguasai hati kita, sebagaimana pesan Abu Bakar R.a sebaik-baik harta itu yang ada di tangan, bukan di hati, kalau harta ada di hati kita, berarti kita telah diperbudak oleh harta, tetapi halau harta kita simpan di tangan, kita bisa mengendalikan, mana saat-saat harta itu dikeluarkan mana yang tidak. Sehingga tidak ada rasa sedikitpun Su’udzon kepada Allah ketika Allah SWT menguji kita dengan kekurangan harta, dan tidak ada rasa “gumede” atau Gede Rasa ketika Allah menguji kita dengan kelebihan harta. Karena sesungguhnya “sebaik-baik harta ada di tangan orang sholih” seperti wasiatnya nabi Muhammad saw.
Kenapa sebaik-baik harta itu ada di tangan orang Sholih? Karena pasti belanjanya itu ke arah kebaikan, kita bisa tebak daftar belanjaanya, misalnya untuk infaq, untuk pergi haji, untuk menaikhajikan orang tua, untuk membantu fakir miskin. Tapi coba jika harta itu berada ditangan bukan orang Shalih, larinya bisa kemana-kemana, bisa Hedonis, untuk berjudi, untuk maksiyat, beli perempuan, hura-hura, dan lain sebagainya.
Sehingga jika kita cermati, harta itu sesungguhnya adalah senjata kita. Dia bisa kita pergunakan untuk jalan kebaikan, sehingga proses untuk memperolehnya itu tolong sehalal-halalnya, sehati-hati mungkin, dan proses membelanjakannya pun hati-hati juga. Karena besok ketika di akhirat, setiap orang ditanya masing-masing satu, misalnya, orang pinter ilmunya untuk apa digunakan, tapi kalau berkenaan dengan harta, itu ada dua yang ditanyakan Allah, dari mana anda dapat? Dan setelah dapat, dikemanakan? Sementara yang lain-lain tidak. Jadi jangan sampai harta itu menjadi fitnah. Karena kadang-kadang ada keluarga yang diuji Allah dengan harta yang sedikit, mereka fight, mereka kuat, mereka kompak, mereka solid, suami isteri Subhanallah luar biasa mereka dapat mendidik anak dengan harta yang kurang. Tapi ketika Allah memberi mereka kemudahan harta yang luarbiasa melimpah banyaknya, lupa, lupa dengan asumsi sudah banyak hal semestinya nggak penting jadi penting. Sehingga yang terjadi kemudian ada selingkuh, ada banyak barang maksiyat di rumah yang itu sebenarnya merusak agama. Mulai dari Vcd porno, anak-anak melihat TV tidak terkontrol lagi karena masing-masing di kamarnya ada TV. Nah, Kadang-kadang memang ujian Allah itu tidak bisa kita prediksi di awalnya. Wallahu’alam bi showab.
Sumber :
Ibu Asri Widiati
Di Kajian RUmahku Surgaku __Pasca Nikah, Radio MQ 92,3 FM Yogya
Edited By : Nisa-Muthmainnah

BAITTI JANNATI


Bahwa sesungguhnya rumah tempat berdiam kita adalah syurga kita. Bagaimana memfungsikan rmh kita sbg syurga. Karena rumah itu harusnya sebaik-sebaik tempat kita kembali mestinya. Mungkin jika kita mudik lebaran, kita bisa membandingkan (bukan dalam rangkan mencari kejelekan), nyaman mana ketika berada di rumah masa kecil saya dengan di rumah bersama pasangan? Misalnya sama-sama nyaman, tapi plong mana…? Misalnya, kok saya masih plong berada di rumah masa kecil saya dulu, ketika bersama orang tua, ketika dikumpulkan bersama adik kakak, tapi ketika saya kembali ke rumah sekarang, ke rumah bersama pasangan kok saya tidak merasakan kenyamanan yang sama. Jika demikian berarti ada yang salah, padahal kalau dalam hadist Rosulullah itu ”Baitii Jannati” (RUmahku Syurgaku), di sini, di rumah kita mencari syurga, artinya kita bebas untuk melakukan aktivitas apapun, kita bebas mengekspresikan diri, misalnya mau membuka aurat, mau tilawah, mau mendidik anak dengan cara Islamipun tanpa ada intervensi siapapun.

Karena itu rumah kita, itu syurga kita, hanya saja sayangnya kadang kita tidak bisa memfungsikan itu secara maksimal. Sehingga orang lebih sering mencari syurga di lain tempat, di luar rumah, misalnya di kantor, di sekolahan, atau di tempat lainnya. Jadi syurga itu kita cari di tempat-tempat yang mestinya kita jadikan tempat itu sebagai syurga, dimana kita bisa mewujudkan nilai-nilai Islami mulai dari dalam rumah. Hal ini juga bukan dalam rangka mensekiankan pekerjaan di kantor, atau mensekiankan rumah orang tua, Tidak! Semuanya sama-sama penting. Masing-masing bilik itu fungsinya maksimal, tapi jauh lebih penting kenapa sih Rosulullah sampai mengatakan Baitti Jannati, ada apa sesungguhnya di rumah eksklusif yang itu memang benar-benar milik kita. Tempat dimana kita bisa aplikasi. Bagaimana sih Rosulullah menginginkan kita itu benar-benar eksis sebagai hamba, dan sebagai anggota masyarakat, sebagai anggota keluarga, semuanya itu dilakukan dengan benar-benar nyaman. Sehingga jika refleksi Baiti Jannati itu belum kita dapatkan, saatnya kita mengevaluasi, yang mana yang salah, secara psikis, fisik, secara mental imani atau yang mana? Kok rumah ku belum bisa jadi Baiti Jannati??
Sepertri apa dan bagamana supaya kita bisa mempunyai rumah Baiti Jannati?
Pertama, yaitu kembali kepada masalah visi misi, masalah keimanan dan pemahaman.
Tujuannya untuk apa kita berumah tangga. Kalau misalnya sudah sehati, ibaratnya tuh pulau itu yang kita tuju, maka caranya seperti apa kita sampai kesana sehingga fungsi rumah itu benar-benar kita rasakan. Misalnya ketika benar-benar capek/panas di luar, benar-benar merasa lelah fisik, psikis begitu masuk rumah kita merasakan ada kedamaian disana, ketemu suami/isteri misalnya SUbhanallah begitu sejuk, bukan malah seperti melihat trouble maker. Jadi secara fisik harus disiapkan rumah itu untuk siap sebagai Baiti Jannati, artinya hal-hal apa saja yang perlu kita lakukan untuk mendukung suasana agar sesuai dengan harapan kita, misalnya bersihkah rumah kita, rapihkah atau letak-letak barang itu sesuai nggak sebagaimana kebutuhannya. Bukan berarti harus yang mewah, bukan berarti harus yang serba ada, serba baru. Tapi jauh lebih penting, fungsional nggak secara fisik rumah kita itu untuk sebagai rumah. Kadang-kadangkan tidak menjadi fungsional karena misalnya terlalu terbuka sehingga pihak isteri merasa tidak nyaman untuk melepaskan kerudungnya sehingga harus tertutup terus. Atau yang kecil-kecil tidak kita perhatikan, atau kebersihan yang kurang diperhatikan sehingga rumah menjadi sarang tikus, oh ternyata tikus itu nyaman di rumah kita, nah bagaimana supaya tikus itu tidak nyaman di rumah.
Atau secara fsikis, ada ngga kenyamanan yang sengaja kita ciptakan sehingga orang benar-benar nyaman disitu. Misal pada saat di rumah yang muncul malah banyak masalah, yang muncul selalu ketidaknyamanan, atau misalnya sudah saatnya kita punya pembantu, karena banyak pekerjaan yang tidak bisa kita lakukan sendiri, ternyata muncul masalah baru, pembantunya beginilah begitulah, atau suami menjadi beginilah, begitulah, ini kan sebetulnya masalah yang kita buat sendiri.
Jadi untuk menjadikan rumah itu Baiti Jannati, secara fisik rumah itu harus siap menjadi rumah islami, secara psikis penghuninya harus merasa nyaman berada di rumah itu. Jadi bukan rumah yang fungsinya itu serba sedikit, sedikit sebagai rumah baca, sedikit sebagai rumah masak, sedikit sebagai rumah makan, sedikit sebagai rumah apalah. Sehingga fugnsi bahwa rumah ini adalah benar-benar ini adalah rumah, ini adalah home dimana saya merasa nyaman berada disini, benar-benar ketika berada di rumah saya merasakan semangat baru. Itu memang harus senantiasa diwujudkan, tidak semata-mata ah nantijuga akan berjalan dengan sendirinya, nanti juga terbentuk sendiri, jadi memang harus direkayasa. Jadi ketika dia atau orang rumah stress dia pulang ke rumah, bukannya ke mall, atau tempat lainnya.

Sumber :
Ibu Asri Widiati
Di Kajian RUmahku Surgaku __Pasca Nikah, Radio MQ 92,3 FM Yogya
Edited By : Nisa-Muthmainnah

Kamis, 26 Februari 2009

Bagaimana Menjaga dan Memperbaiki Aib Pasangan



Rumah tangga bagaikan sebuah kapal yang berlayar di tengah lautan, dimana kita tidak pernah tau kapan datangnya badai, hujan, bahkan angin ribut. Artinya, banyak hal yang perlu dipersiapkan agar tujuan kita bisa tercapai dengan selamat.

Hanya saja terkadang ada sisi2 internal yang tidak bisa kita antipasti sebelumnya. Sehingga keutuhan kapal itu sendiri akan mengalami banyak masalah, misalnya ada yang bocor disini, mungkin disana yang dianjungan kurang kuat pagarnya… Sehingga sisi-sisi internal itu perlu diperhatikan, termasuk didalamnya adalah menjaga dan memperbaiki aib pasangan. Karena sesungguhnya luar biasa, manusia itu mempunyai berbagai karakter yang berbeda-beda, budaya kebiasaan dan latar belakang keluarga yang berbeda, dan disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Sehingga bagian dari sebuah kewajaran jika kemudian muncul riak maupun gelombang. Tetapi kadang kita lupa bahwa ada control emotion yang harus diperbaiki.

Misalnya ada kebiasaan-kebiasaan pasangan yang tidak kita sepakati (baca: sukai), atau mungkin bukan semata2 kebiasan tapi bahkan akhlak pasangan kita, dimana pasangan mempunyai bagian akhlak buruk yang kita tahunya setelah menikah. Sehingga kita merasa kecewa, kok dulu sewaktu masa ta’aruf tidak bercerita, kenapa??.
Sehingga pada akhirnya dibutuhkan kebijakan. Misalnya seorang suami, memandang isterinya dengan tatapan bijak, jika suatu saat melihat ternyata harapannya tidak sesuai dengan keinginannya (Isteriku atau Suamiku tidak sesuai dengan harapanku:red). Sebagaimana sabda Rosulullah SAW “ sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap isterinya”.

Ada beberapa Tipologi manusia menyikapi hal tersebut, diantaranya :
1. Ada yg mengeluh kesana kemari, bercerita kesana sini.
2. Menuntut pada perantaranya (mak comblangnya). Kok kamu bisa sich jodohin aku sama dia, kamu tau nggak dia tuh punya kebiasaan bla…bla…
3. Bahkan ada yang banyak mengambil jalan pintas, dengan cara bercerai
4. Ada juga yang mencoba bertahan, tapi seperti hidup dalam sekam yang dibakar, rasanya panas ketika berada di rumah.
5. Atau menutup-nutupi, seolah-olah tidak ada permasalahan. Padahal di alam bawah sadarnya dia tidak merasa nyaman atau tidak puas sehingga suatu saat bisa jadi meledak.

Kemudian bagaimana seharusnya?

Sesungguhnya kebijakan itu datang dari Rosulullah SAW. Bagaimana Rosulullah menuntun kita ketika akan menikah, bagaimana Rosulullah memberikan statement bagaimana kita seharusnya berumah tangga. Misalnya ada hak-hak dan kewajiban isteri, hak-hak dan kewajiban suami. Dan hal tersebut sangat rinci dan detail dalam Syari’at Islam.

Sehingga pertama, aib ataupun cacat pasangan sesungguhnya adalah bagian dari peluang amal bagi kita jika kita mampu memperbaikinya. Karena sebenarnya da’i yang paling efektif adalah da’i dalam Rumah Tangga, bagaimana seorang suami mendakwahi isterinya, ataupun sebaliknya isteri melihat ada cacat pada suaminya, misal suami tidak rutin sholat lima waktu, sesungguhnya itu merupakan peluang untuk berbuat kebajikan bagi isteri supaya itu menjadi baik. Sehingga dengan demikian isteri/suami diberi Allah peluang pahala yg luar biasa . Hanya saja kadang-kadang kita tidak melihat jauh kesana, sehingga lebih memilih bercerai. Padahal itu bukan jalan yang terbaik, karena sesungguhnya orang lain tidak bisa memberikan pahala untuk kita, sebagaimana Allah memberikan peluang pahala seperti itu. Kita tarik itu sebagai bagian pahala untuk kita. Ketika kita bisa menjadi jalan untuk pasangan kita mendapat hidayah, Subhanallah pahalanya sepenuh lembah. Suami isteri itu… ibaratnya kalau sedang berjalan, “ayo kita jalan bersama”, kalau ada satu yang jatuh ke jurang yang satu berkorban untuk menunda sesaat perjalanannya, “ Ayo kutarik engkau pelan-pelan…. kita naik”, bukannya dengan “syukurin!! Mumpung engkau masuk jurang, saya bisa lari menuju ke surga”. Tentunya tidak demikian.

Kedua, manajemen keluh mengeluh juga harus hati2, jangan sampai ke setiap orang kita mengeluh, bahkan kepada orang tua. Padahal sesungguhnya hakikat dari masalah pasangan kita adalah aurat. Karena suami isteri itu ibarat cermin, sehingga jika isteri bermasalah, tengoklah barangkali suaminya lebih bermasalah daripada isterinya. Kalau pepatah arab bijak mengatakan “ Seandainya ada seseorang datang kepadamu menceritakan aib orang lain, menceritakan kesedihan dirinya terhadap pasangannya dan dia menangis di depanmu dan mencucurkan air mata, tahan! Bisa jadi pihak yang dikeluhkan itu cucuran air matanya lebih deras karena luar biasa penderitaan yang dialami”. Jadi adilah! Kalau kita menuntut kesempurnaan pada pasangan kita, sesungguhnya sadarilah, kita juga bukan sosok yang sempurna. Sehingga kelapangdadaan kita menerima kekurangan pasangan kita sesungguhnya merupakan illat yang luar biasa besar untuk kita berbuat lebih baik lagi.
****end*****

Disini akan diceritakan beberapa kasus Rumah Tangga yang berkaitan dengan Tema : Menjaga dan Memperbaiki Aib Pasangan. Semoga ada Ibrah yang kita dapatkan.

Kasus 1:
“Kadang-kadang sebelum menikah, kita melihat sosok calon suami kita sangat luar biasa, akan tetapi setelah menikah, sifat dan karakternya sangat jelas, baik itu berkaitan dengan akhlaq ataupun ibadah kepada Allah. Nah ada seorang akhwat yang setelah menikah, suaminya kok sering menunda-nunda Sholat, dan banyak hal-hal lain yang terjadi. Bagaimana seorang isteri seharusnya menyikapi hal tersebut?”

Narasumber :
Rumah itu memang sesungguhnya tempat kita beristirahat, artinya tempat dimana kita bebas melepas aurat, melepas topeng, melepas karakter di luar yang biasanya di luar orang inginnya tampak berwibawa, disegani, atau dihormati, dan sesungguhnya itu adalah sa’atan, sa’atan, sa’atan (sesaat sesaat sesaat). Ada masa-masa dimana orang itu butuh untuk Refreshing, dia butuh untuk berbagi hati, dia butuh untuk manja, butuh kekanak-kanakan, dsb. Sehingga di rumah dia lepaskan semua atribut tadi yang dia sudah pakai di luar. Makanya dalam Al-Quran disebutkan yang namanya suami isteri itu “Hunna libasullakum wa antum libasu lahunna………” artinya “kamu itu pakaian buat mereka, dan mereka juga pakaian buat kamu”. Sehingga ketika kita melihat aib, katakanlah Sholatnya atau akhlaknya atau yang lain-lainnya. Kemudian apa yang perlu kita lakukan?? yang dilakukan adalah dengan melakukan perbaikan dengan diri kita sendiri artinya dia adalah bagian diri kita, dan kita juga bagian dari diri kita, kita memperbaiki diri dia ibarat kita memperbaiki diri kita.
Karena kalau tidak dilakukan, kemudian dari pernikahan itu keluar anak-anak. Dan anak-anak melihat aib bapaknya, melihat aib ibunya. Kalau tidak ada saling perbaikan maka aib itu akan menjadi turunannya dia (aib turunan). Dan tentunya kita tidak menginginkan itu.
***end***

Kasus 2 :
“Suami saya suka sekali sms-an dengan perempuan, kata-katanya mesra sehingga akhirnya saya ketahui. Setelah saya tanyakan pada suami, beliau mengatakan bahwa mereka sering ketemu, hingga akhirnya suami mengatakan suatu saat akan menikahi perempuan tersebut. Saya takut suami terlalu banyak akan melakukan dosa, ketika saya ingatkan dia beliau sering marah-marah, dan hal itu berlangsung sampai sat ini. Apa yang harus saya lakukan?”

Narasumber :
Selain mengingatkan, ada tidak sih akar permasalahan di keluarga sehingga suami bisa melakukan seperti itu.
Jauh lebih penting yang pertama harus dilakukan adalah muhasabah diri. Apa sih yang kurang dalam rumah ini sehingga dia butuh dari luar. Ibarat orang kenyang perutnya, mestinya dia tidak melirik-lirik lagi, tidak kesana kemari.
Hal ini bukan dalam rangka menyalahkan, tapi mencoba untuk muhasabah terlebih dahulu. Apa sih yang dia tidak suka dari saya?, apa sih yang dia temukan dari saya sehingga membuat ketidaknyamanan bagi suami?, atau barangkali ketika suami pulang kerja melihat saya masih semrawut, ohh mungkin itu yang saya temukan kesalahan itu dari saya. Atau pada saat suami jenuh, saya menambahi kejenuhannya. Ketika dia marah, saya juga ikut-ikutan marah. Ketika dia diam, saya juga ikut-ikutan diam. Ketika dia membentak, saya balas membentak, dsb.
Jika point-point itu telah ditemukan, mari kita coba membuat sebuah planning waktu, misalnya sebulan ini saya akan memperbaiki diri saya. Syukur dalam kondisi santai, misalnya pada saat kondisi suami tidak marah-marah ibu tidak harus ingatkan dia tentang sms mesra itu. Tapi bincangkanlah misalnya, apa ya mas yang kurang dari saya?, apa ya yang waktu sebelum nikah yang mas harapkan dari saya, itu belum mas dapatkan sampai saat ini?. Jika sudah, coba dievaluasi. Atau ada masa-masa dimana dia tidak mendapatkan sms-sms mesra dari ibu. Mungkin dia lebih membutuhkan kata-kata dari pada sekedar tindakan.
Kalau itu sudah bisa dilakukan, dan sudah bisa ambil alih, sebetulnya dia tidak butuh sms2 mesra dari sahabatnya itu, karena sesungguhnya saya lah yang paling berhak, sayalah yang paling bernilai di mata Allah.
Sehingga ketika perbaikian-perbaikan itu telah ibu lakukan, coba lihat reaksinya, apa dia gembira dengan sikap-sikap ibu, atau dia tetap saja bermasalah dengan sms mesra itu, atau barangkali dia tidak hanya bersms mesra dengan satu wanita itu tapi juga dengan beberapa perempuan. Dan hal-hal tersebut adalah masalah-masalah psikis yang kita juga harus ketahui.
Dan misalnya jika semua itu telah ibu lakukan, ibu timbang-timbang perlu tidak saya bicara dengan perempuannya, barangkali perempuan itu ketika bertemu dengan saya dia bisa lebih jujur, atau barangkali perempuan justru tidak tahu kalau sesungguhnya suami saya sudah beristeri atau barangkali ibu bisa lebih belajar dari kelebihan dia sehingga dia menarik di mata suami ibu.
Hal ini memang sepertinya kok seperti perempuan lagi yang kalah, bukannya yang salah sesungguhnya adalah suami, tapi kok jadi kita yang seakan-akan bersalah , tapii kok kita yang harus berkorban untuk dia.
Sebenarnya ini bukan sedang berbicara kalah atau menang, tapi sesungguhnya kita sedang berbicara siapa yang ingin mendapatkan Ridlo Allah, siapa yang ingin naik derajat di Mata Allah. Mungkin di mata suami ah ga segitu2 amat, tapi di mata Allah kita luar biasa, karena kita berkorban untuk Rumah Tangga kita. Kita menunjukkan kesetiaan kita pada Rumah Tangga kita, kita menunjukkan kelapangdadaan kita, kita menerima bahwa ada masalah disini dan kita ingin memperbaiki. Mengalah untuk kemenangan berikutnya. Karena sesunguhnya itu adalah peluang pahala yang sangat besar ketika kita bisa memperbaikinya. -Mengalah untuk meraih kemuliaan di sisi Allah.
***end***

Kasus 3:
Bagaimana supaya kita ketika melihat aib pasangan benar2 melihat sebagai ladang amal, dan tidak mudah mengatakan kata2 bercerai?

Narasumber:
Yang pertama tentunya adalah melakukan muhasabah, kenapa aib itu bisa muncul di rumah tangga kita?
Karena pada kenyataannya seringkali ketika kita bertemu dengan pasangan kita, itu bukan kebaikan yang menulari kebaikan, tapi justru keburukan yang menulari keburukan. Misalnya, sewaktu sebelum menikah kita mempunyai kebajikan yang luar biasa baik, kemuadian ketemulah sama suami dan menikah dan ternyata kita menemui seabreg kekurangan “kok dia begitu ya, kok Sholatnya ga rajin-rajian amat ke masjid”, nahh kita malah coba mengikuti, ”kok dia tilawahnya biasa aja”, kita ngikuuut. Kok dia sama orang tuanya ngga hormat2 banget, kita jadi ikut2an ga hormat. Nah ini kan seharusnya bukan beghitu. Tapi jauh lebih penting bagaimana agar kebaikan itu saling menular.
Karena tidak mungkin orang itu lepas dari masalah, tidak mungkin orang itu nggak ada cacatnya. Karena yang namanya manusia itu tidak ada yang maksum, tidak ada yang lepas dari dosa. Tinggal kita bagaimana memanaje dosa itu supaya tidak mendominasi kita. Sehingga kalau ada dosa, istighfar, tobat, selesai. Bukan diulang lagi, diulang lagi, diulang lagi.
Karena biasanya masing-masing orang mempunyai alibi terhadap cacat yang dia punya. Misalnya si Bapak bilang “kok waktu ibu lebih dominan di depan televisi, dari pada melakukan amal kebajikan yang lain?” Alibi ibunya “abisnya bapak nggak pernah pulang, ibu kesepian ya udah jadi ya temen ibu ya televisi”. Ini kan sebenarnya alibi, dan sesungguhnya kan bukan begitu. Peluang yang lain kan banyak, dengan menyantuni tetangga, silaturahim misalnya walaupun suami kerjanya jauh, tidak pulang-pulang.
Nah, setelah kita melihat itu sebuah bagian dari kewajaraan atau keniscayaan bahwa seseorang itu pasti punya aib, kemudian yang kedua yang kita lakukan adalah Membuat program untuk memperbaiki aib pasangan tadi, menjadikan itu sebagai peluang pahala.
Apa program yang kulakukan untuk aib yang “ini”. Misalnya ternyata suami mempunyai tabi’at mudah marah, kalau udah marah itu dah meledak, meledak aja mungkin kita bisa tahan hati, tapi ini misalnya sampai membantingi barang. Apa yang kira2 yang bisa kulakukan untuk dia, padahal kalau sedang tidak marah, dia itu baaiiik banget orangnya. Cari akal kreatif kita untuk meredam kemarahannya, mungkin kita bisa merekamnnya ketika dia sedang marah tanpa sepengatahuan dia, atau kita potret atau pake video ketika dia marah tanpa sepengathuan dia tentunya. Nah nanti setelah suasananya enak, santai, enak diajak ngomong, kita katakan “mau tau ngga kalau kamu lagi marah menakutkannya seperti apa, coba deh dengerin”? Karena yang namanya orang marah, pada saat itu sedang dikuasai syaitan.
Sehingga sebelum berfikir untuk bercerai, mari kita buat program terlebih dulu, dan maksimal. Artinya jangan program-programan, kalau kita lagi mau ya kita konsisten jalanin, tapi pas lagi tidak, kita sendiri yang tidak konsisten, itu kan tidak baik juga.
Sehingga jika kebaikan sudah menular, dan program sudah kita upayakan lebih baik, InsyaAllah semoga Allah memberkahi amal usaha kita. Urusan hasil terserah nanti, karena itu urusan Allah, yang paling penting adalah kita maksimal terlebih dulu dalam berusaha. Jadi jangan sedikit sedikit cerai, belum tentu cerai itu akan lebih baik. Belum tentu pasangan yang kita temui nantinya jauh lebih baik. Atau bahkan belum tentu kita mudah mendapatkan pasangan. Bahkan status yang sudah bercerai di mata masyarakat masih ada stigma negative meskipun itu tidak semua, dan bersifat kasuistik. Jadi jangan sekali-kali berfikir untuk cerai, karena Allah bisa memudahkan fikiran kita. Sehingga ketika itu muncul, segera beristighfar. Astaghfirloh aku tidak boleh berfikir seperti ini, Astaghfirullah aku masih bisa berbuat lebih banyak lagi tanpa aku harus mengeluarkan kata2 itu, karena mungkin 5 tahun, 7 tahun, 10 tahun, atau mungkin barangkali 15 tahun kita baru mendapatkan bahagianya setelah itu. Karena Takdir itu rahasia Allah, jadi cobalah diusahakan semaksimal mungkin. Cerai itu darurat, hukumnya boleh tapi itu dibenci Allah.
***end***

Kasus 4 :
Wanita itu identik dengan curhat, inginnya bercerita, berbagi untuk mengurangi bebannya baik itu ke sahabat sendiri, atau bahkan orang tua. Dan jika berkaitan dengan aib kelaurga, apakah secara syari’at membolehkannya ketika kita ingin berbagi beban?
Narasumber :
Jadi memang ada beberapa hal, yang itu dibolehkan. Rosullah SAW sendiri pernah ada suatu saat ada salah satu sahabiah beliau yang namanya Hindun (salah seorang yang terakhir2 masuk Islam) isteri dari Abu Sofyan. Ketika Rosullah sedang ada Majelis, hindun tutupi wajahnya dan bertanya kepada Rosullah “Suamiku pelit, boleh tidak aku merogoh uang dari sakunya tanpa sepengetahuan dari dia”. ibaratnya jika tidak diminta, dia nggak ngasih. “sehingga aku tau kalau di saku dia ada uang, boleh tidak aku ambil Ya Rosulullah?” begitulah kira-kira
Jika kita melihat hadist di atas, ini kan yang pertama beliu menceritakan aib suami, tapi ia bercerita pada siapa, pada Rosulullah, orang yang bisa memberikan solusi bagaimana Solusi Syari’atnya, orang yang sebagai rujukannya. Sehingga Rosulullah menjawab “ambil sesuai keperluanmu” .
Jadi sesungguhnya boleh dengan syarat :
1. Kita yakin bahwa orang yang dicurhati amanah
2. Kita yakin bahwa orang yang dicurhati mampu member jawaban atas masalah kita, jadi jangan setiap orang kita curhati.
3. Ketika curhat tidak menjadi fitnah. Ini curhatnya bapak2 pada ibu2, nah ini bisa jadi bukannya mencari penyelesaian masalah tapi justru akan menjadi fitnah.
4. Yakin betul bahwa masalah itu tidak akan melebar kemana2. Jadi sebetulnya masalah itu kita selesaikan sendiri terlebih dulu jika kita mampu.
***end***


Sumber :
1. Radio MQ 92,3 FM Jogja, Yogyakarta
2. Narasumber : Ibu Asri Widiati
3. Penyiar : Eva Nurisa
4. Edited By Nisa Muthmainnah

Info :
http://lin-muthmainnah.blogspot.com

Kritik dan saran dapat dikirim ke :
1. Email : Nisa_mutmainnah@yahoo.com
2. Blog : lin-muthmainnah.blogspot.com

Kamis, 13 Maret 2008

Pola Relasi Suami Isteri

Isteri adalah sahabat suami

Persahabatan merupakan salah satu penampakan naluri manusia. Kepada sahabatnya seseorang merasa sederajat. satu dan yang lainnya tidak merasa lebih tinggi. Seorang akan merasa nyaman hidupnya dengan kehadiran sahabat disisinya. mereka mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang terpercaya tanpa pamrih. Mereka dapat saling berkeluh kesah dan berbagi rasa. baik suka ataupun duka. Seorang sahabat tidak akan merasa berat mengorbankan waktu untuk mendengarkan sahabatnya. Seorang akan merasa dihargai dengan kepercayaan sahabtnya. MEreka saling menerima apa adanya kekurangan dan kelebihan sahabatnya. Mereka berupaya agar sahabtnya selalu mendapatkan Ridlo Allah SWT. Jika ada persoalan antara mereka akan diselesaikan dengan musyawarah. Tentu musyawarah dengan komunikasi yang hangat, penuh ungkapan kasih.
hubungan antara suami isteri lebih dari pada persahabatn dua orang manusia. Suami telah menjasi sayap bagi isterinya. Isterinya telah menjadi sayap bagi sebelahnya lagi. Suami isteri benar - benar menyatu seperti menyatunya warna kuning dan biru menjadi warna hijau. Selera suami terhadap makanan, pakaian, kendaraan, perabot rumah dan sarana hidup lainnya semasa masih bujang akan berubah ketika sudah menikah, demikian pula dengan isteri tidak semuanya seleranya terhadap kehidupan dapat dipaksakan ketika sudah hidup bersama suaminya.
Kepemimpinan suami bukan pengistimewaan komando dan fasilitias. Pelayanan isteri kepada suami bukanlah penghambaan dan penghinaan. keduanya hidup sebagai sahabat. Saling menyayangi, mengasihi, membutuhkan, memberi dan menerima sebatas apa yabn telah ditetapkan Allah atas keduanya. Saling memberikan hadiah dan ungkapan kasih sayang merupakan anjuran Islam. Pelukan dan ciuman mesra diantara keduanya akan semakin mendekatkan hati. suami dan isteri bahu membahu dan berjuang bersama untuk dapat bergandengan tangan masuk ke dalam surga.
Jika suami melakukan kesalahan atau kelalaian maka denga penuh rasa hormat dan cinta isteri akan menginngatkannya. Dengan nama Allah isteri tidak akan rela suaminya melakukan dosa hingga mendapat murka-Nya. Isteri harus mampu menundukan suaminya sebagai pemimpinnya. Dia menghargai suaminya selayaknya sebagai pemimpinnya. Dia menghargai dirinya suaminya selayaknya sebagai pemimpin. Dengan menaati dan mengikuti setiap kebijakannya disertai kasih sayang. Jika isteri melakukan kesalahan maka dengan lembut dan penuhkasih sayang seorng suami akan membimbing dan mengarahkannya. Suami tidak serta merta marah, menghujat, mencela, memojokkan, menghina apalagi memberi sangsi

sumber : buku Bangunan keluarga dambaan (panduan membangun keluarga) karangan Ridha salamah dan Abu zaid

Kamis, 09 Maret 2006

kisah keluarga muslim

--sebuah kisah keluarga muslim ideologis di sebuah kota metropolitan sana...
sebuah kisah yang akan membuat seorang muslimah rindu akan seorang qowwam yang ta'at kepada Allah dan Rosul-Nya, yang mampu menjadi qowwam (pemimpin) bagi isteri dan anak2 nya.---


19.02.2008

10.00 – Pagi itu seperti biasa, aku berangkat ke kantor untuk memenuhi salah satu kewajibanku sebagai seorang muslim, mencari nafkah yang pahalanya bisa menghapus dosa yang tak bisa dihapus dengan shaum dan shalat.. Teleponku berdering, oh rupanya dari bidadariku dirumah..

“Abi, tadi ummi keluar flex darah nih, gimana ya bi...”.

“Ah, sudah dekat rupanya” batinku...

“Ya sudah, kalo mau, ummi ke RS aja bareng ibu naik taxi, nanti abi tunggu di RS”, jawabku singkat

12.00 – Kami bertemu di RS, istriku direkam dengan CTG (Cardio Toco Graph), tak lama kemudian, dokter keluar dan mengatakan

“Rekamannya bagus, tapi pembukaannya belum ada, sepertinya kelahirannya nggak akan dalam waktu 1 atau 2 hari ini, jadi pulang aja dulu ke rumah, nanti kalo ada tanda-tanda seperti yang selama ini saya katakan, baru dibawa lagi ke RS”

“Tapi dok, bagaimana dengan flex darah tadi?” aku penasaran

“Ah nggak papa, itu biasa kok pak”

Alhamdulillah, ucapku dalam hati, tidak ada masalah yang berarti...

Aku menyelesaikan pekerjaanku, pada jam 17.00, tapi mengingat jalan jakarta yang tak pernah sepi dari macet pada jam pulang kerja, aku mengurungkan niatku untuk pulang

Setelah shalat maghrib di kantor, aku menyusuri jalan untuk pulang ke rumah

3 minggu terakhir ini adalah minggu yang sangat berat bagiku. Pekerjaan seolah menemui titik klimaksnya, belum lagi pekerjaan utamaku, yaaa... mungkin pekerjaan utamaku ini tidak begitu menarik bagi kebanyakan orang, bahkan tidak jarang orang memandang sinis, lucu dan menertawakan ketika mendengarku mengucapkannya. Aku tahu, mereka semua adalah orang yang tertipu dan terlanjur memanjakan diri dalam sistem kapitalis-sekuler. Mereka memandang jabatan, kedudukan, harta, kendaraan, sebagai penentu posisi seseorang. Walaupun begitu, bila ditanya apa pekerjaan utamaku, dengan tegas aku menjawab
“Saya mempersuasi orang untuk menegakkan kalimat Allah diatas muka bumi, sampingan untuk cari nafkah yaa, kadang jadi dosen matematik, marketing, kadang-kadang marketing manager”

Yah, itulah pekerjaan utamaku, tak mudah, pun juga tak susah, tapi bayarannya gede lho..

Aku pulang kerumah tepat adzan isya, shalat lalu bercanda dengan bidadariku yang sedang kesakitan, mules-mules katanya, tak lama kemudian, sekitar jam 11 aku pun meminta izin padanya untuk istirahat

“Ummi, abi mau bobo ya, dah lama banget ni nggak bobo enak hehehehe...”

“Ya udah bi, ummi sih kayaknya nggak bisa bobo, mules terus ni bi...”

Tak lama kemudian, tak ada yang kurasakan, sunyi sepi...

20.02.08

01.24 - “ABI BANGUN!”

Terkejut aku mendengar teriakan khas itu... “Ada apa um?”

“Abi air ketubannya keluar! gimana ini bi!!!”, bagiku raut panik wajah istriku lebih mengerikan daripada kata-katanya

“Ya udah ummi, nggak papa, jangan panik ayo kita ke RS”

Dengan perlengkapan yanng seadanya aku memacu kendaraanku lebih kencang dari biasanya, menembus kegelapan jakarta, dalam hati aku bersyukur keadaan tidak macet.

15 menit kemudian aku sampai di RS, dan aku bersama mertuaku menemani istriku yang hampir seluruh jilbabnya basah karena air ketuban yang pecah sebelum waktunya. Sabar, inget Allah, dia yang memberikan segala sesuatu dan dialah tempat berharap, aku menguatkan diriku sendiri...

02.00 – “pak, belum ada pembukaan”

Innalillahi... ucapku dalam hati, belum ada pembukaan?

“Sabar ya dek, insya Allah nggak akan ada apapun...”

“Tapi mules bi, sakit..”

“Iya, abi tau.. istighfar dek, inget Allah.. sekarang semua malaikat lagi mendoakan ummi dan memohon ampun buat ummi.. istighfar dek... mudah-mudahan sakit ni membuat semua dosa ummi luruh, abi selalu disini, mendoakan adek”

“Iya bi...”

Waktu berlalu begitu cepat, shubuh lewat, jam 7, jam 8, jam 9 aku menghitung waktu... Seiring dengan bertambahnya waktu, erangan kesakitan istriku bertambah keras dan memilukan. Ya Allah, mudahkanlah istriku... surat Fatihah, dan ayat-ayat Allah entah berapa kali meluncur dari bibirku... “Astaghfirullahaladzhiiiim, astaghfirulahaladzhiim, astaghfirulahaladzhiim...”

Ya Allah, sekejap, kelebatan dosa-dosaku muncul dihadapanku, Ya Allah, jangan-jangan ini semua karena dosaku... Ya Allah Ya kariim... Mudahkanlah istriku, mudahkanlah istriku...

”Allah... Abi...”

“Abi... sakit...”

“Allah...”

“Astaghfirullah...”

5 jam berlalu dengan kata-kata seperti ini, sungguh hancur batinku, melihat orang yang selama ini kucintai dan mencintaiku tanpa mampu berbuat apapun, dokter berkata katanya baru pembukaan 1 dari 10 pembukaan, dan mengabarkan bayinya lahir minimal 8 jam lagi.

“8 jam lagi!” tidak, tidak, ingkarku, 8 jam lagi menyaksikan kesakitan yang terus bertambah, lebih buruk daripada seluruh pengalamanku hingga saat ini..

Ya Allah, memang manusia ini dhaif dan mendzalimi diri sendiri dengan kedhaifannya itu.... sesalku atas dosa-dosaku...

11.00 – “Abi, sakit.... Abi ummi udah nggak kuat...”

DEG!, jantungku berderap kencang, darahku naik ke kepala seolah mau pingsan ketika mendengar kata-kata itu. Tidak, jangan kata itu yang keluar pikirku dalam hati. Bibirku kelu, fikirku berhenti, yang keluar adalah kata-kata yang tak pernah kupikirkan “Ummi pasti bisa, La yukalifuhullahu nafsan illa wusaha”

“Kalau Allah mewajibkan sesuatu maka pasti bisa kita tanggung dek!, adek pasti bisa, ucapku seraya mengusap keningnya..” Walaupun aku tidak yakin, bisakah aku menanggung sakit ini bila berada di posisinya.. Sungguh wanita sangat mulia dan sabar pikirku..

“Nggak bi, ummi udah nggak kuat lagi, ummi lemes..”

Ya Allah, tak ada nama yang lebih layak disebut kecuali diri-Mu, engkaulah pemberi harapan dan tempat meminta... mudahkanlah istriku... mudahkanlah istriku... Aku tahu, meskipun aku tak dapat melakukannya, tapi tetap saja aku berharap ‘seandainya rasa sakit ini bisa dipindahkan kepadaku’

rasa sakit itu terus berlanjut, ini kondisi terlemah selama hidupku, menyaksikan dia tanpa mampu berbuat apapun.. “Sabar dek, istighfar, inget Allah...” hanya itu yang mampu kuucapkan..

Tak lama kemudian suster datang membawa obat pengurang rasa sakit

“Alhamdulillah” istriku agak tenang, perlahan ketenangan mulai tampak di wajahnya...

16.00 – Setelah shalat dzuhur dan ashar, rupanya Allah menjawab doaku

“Qola rabbukum ud’uni! astajiblakum” (Berkattalalah Tuhanmu, berdoalah kepadaku! akan pasti akan kuperkenankan)

Alhamdulillah, pembukaaan 1-10 yang awalnya diteorikan di buku-buku selama 10 jam dijalani istriku dalam 4 jam.

“Dedeknya udah siap keluar ni, ibu latihan nafas ya...” suster berkata

Ini saatnya pikirku, kecemasan datang kembali, tapi tidak separah tadi...

“Dek semangat ya! bentar lagi jadi ibu... Inget Allah, banyak istighfar, pas ngeden ucapkan Allahuakbar!”

“Iya bi” senyum istriku dalam kesakitan

Lampu penerang dihidupkan, tempat bayi disiapkan untuk menyambut kelahiran anak pertama kami

16.15 – “Siap ya bu, ayo coba ditekan!” teriakan dokter diikuti usaha istriku “Aahhhh”

“Ya bagus! begitu bu, terus!”

“sssp...hhhh, Aaaargh!”

dua atau tiga kali istriku mengedan

“Bagus bu, udah keluar ni, dedeknya rambutnya tebel”

Ketika kulihat, Ya Allah gumpalan darah, apa itu yang dinamakan kepala? Kulihat istriku berhenti bernafas, “Dek semangat ayo dek”, dia masih saja tetap diam

“Ayo bu, kasian dedeknya kejepit nih! ayo dorong”

Sambil mengumpulkan tenaga istriku melanjutkan usahanya..

“Aargg!”

“Sekali lagi” dokter berkata

“AAAAA”

“Sekali lagi ibu, sudah bagus” lanjut dokter

Aku melihat gumpalan daging merah yang sepertinya tak mungkin keluar dari perut istriku, Ya Allah, itukah anakku...?! Kenapa dia tak bergerak...

“AAAAAArgh!”

cipratan air ketuban terakhir melumasi bayiku, keluar laksana bukan bayi, 2 detik kemudian ia menagis sambil meronta-ronta

“ALHAMDULILLAH DEK... ALHAMDULILLAH... Dek, alhamdulillah dek udah keluar... aku berteriak kegirangan

“Alhamdulillah” ucap istriku tak jelas karena keletihannya yang sangat...

Aku meninggalkan istriku yang dibersihkan untuk beralih kepada bayiku. Lengkap, sehat pikirku. Alhamdulillah...

Ia membuka matanya dan melihatku, sungguh kebahagiaan dalam hidupku. Engkau akan menjadi kebanggaanku anakku...

Setelah dibersihkan aku memperdengarkan kepadanya ayat-ayat Allah,

Nak, inilah kata-kata yang pertama kali diucapkan kepadamu “Allahuakbar!”

“Muliakanlah, besarkanlah Tuhan-Mu”

Mungkin engkau terlalu senang berada di dalam perut ibumu nak, Abi mengerti, disana engkau akan aman dari gangguan virus sekularisme, kapitalisme, demokrasi, HAM dan semua pemikiran lain yang tak pernah diajarkan Allah dan Rasulnya

Mungkin engkau disana tidak akan pernah mendapati orang yang mencemooh dan mengolokmu dikala menyuarakan Islam sehingga engkau betah berlama-lama disana

Mungkin disana belum kau dengar semacam liberalisme, pluralisme dan sekulerisme

Tapi tidak, rintihan ummi-mu dan kecemasan abi-mu telah berubah menjadi kebahagiaan saat engkau hadir di dunia ini. Disinilah engkau akan mengemban tugas sebagai “khalifah fil ardh” – pengelola diatas muka bumi.

Disinilah engkau akan berperang anakku, melawan semua pemikiran kufur, dan jangan lah khawatir, telah kupilihkan untukmu ibu yang baik dan sabar, yang akan membimbingmu di jalan-Nya

Kuharap kelak engkau menjadi seorang perempuan yang shalehah yang akan membentengi keluargamu denga Islam, kata-kata yang keluar dari mulutmu adalah Islam

Engkau akan hanya membanggakan Islam, bukan yang lain. Engkau hanya takut kepada Allah, bukan yang lain. Engkau hanya memegang panji Rasul, bukan yang lain

Kuharapkan ketika SD saat yang lain menyanyikan lagu tak bermanfaat engkau akan mendendangkan Qur’an

Kuharapkan ketika SMP disaat orang lain bermain engkau mengkaji Sunnah-Rasul

Kuharap ketika SMU disaat orang lain pacaran engkau mengenakan Jilbab dan Khimar dan berdakwah di jalan Islam

Kuharap ketika PT disaat orang lain meneriakkan “hidup mahasiswa” tapi engkau hanya ingin meneriakkan “Allahuakbar!”

Kuharap ketika berkerja disaat yang lain mengutamakan dunia engkau berorientasi pada akhirat

Kuharap engkau menemani laki-laki selevel para shahabat

dan Kudoakan engkau meninggal sebagai salah satu syahidah

Agar engkau dapat menjamin bapak dan ibumu masuk ke surga Allah yang telah dijanjikannya...

Abi dan Ummi rindu dengan panggilan Allah

Yaaa ayyatuhan nafsul mutmainnah, Irji’ii ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah

Fadkhuli fii ’ibadiii, wadkhullii jannati