Kamis, 09 Maret 2006

kisah keluarga muslim

--sebuah kisah keluarga muslim ideologis di sebuah kota metropolitan sana...
sebuah kisah yang akan membuat seorang muslimah rindu akan seorang qowwam yang ta'at kepada Allah dan Rosul-Nya, yang mampu menjadi qowwam (pemimpin) bagi isteri dan anak2 nya.---


19.02.2008

10.00 – Pagi itu seperti biasa, aku berangkat ke kantor untuk memenuhi salah satu kewajibanku sebagai seorang muslim, mencari nafkah yang pahalanya bisa menghapus dosa yang tak bisa dihapus dengan shaum dan shalat.. Teleponku berdering, oh rupanya dari bidadariku dirumah..

“Abi, tadi ummi keluar flex darah nih, gimana ya bi...”.

“Ah, sudah dekat rupanya” batinku...

“Ya sudah, kalo mau, ummi ke RS aja bareng ibu naik taxi, nanti abi tunggu di RS”, jawabku singkat

12.00 – Kami bertemu di RS, istriku direkam dengan CTG (Cardio Toco Graph), tak lama kemudian, dokter keluar dan mengatakan

“Rekamannya bagus, tapi pembukaannya belum ada, sepertinya kelahirannya nggak akan dalam waktu 1 atau 2 hari ini, jadi pulang aja dulu ke rumah, nanti kalo ada tanda-tanda seperti yang selama ini saya katakan, baru dibawa lagi ke RS”

“Tapi dok, bagaimana dengan flex darah tadi?” aku penasaran

“Ah nggak papa, itu biasa kok pak”

Alhamdulillah, ucapku dalam hati, tidak ada masalah yang berarti...

Aku menyelesaikan pekerjaanku, pada jam 17.00, tapi mengingat jalan jakarta yang tak pernah sepi dari macet pada jam pulang kerja, aku mengurungkan niatku untuk pulang

Setelah shalat maghrib di kantor, aku menyusuri jalan untuk pulang ke rumah

3 minggu terakhir ini adalah minggu yang sangat berat bagiku. Pekerjaan seolah menemui titik klimaksnya, belum lagi pekerjaan utamaku, yaaa... mungkin pekerjaan utamaku ini tidak begitu menarik bagi kebanyakan orang, bahkan tidak jarang orang memandang sinis, lucu dan menertawakan ketika mendengarku mengucapkannya. Aku tahu, mereka semua adalah orang yang tertipu dan terlanjur memanjakan diri dalam sistem kapitalis-sekuler. Mereka memandang jabatan, kedudukan, harta, kendaraan, sebagai penentu posisi seseorang. Walaupun begitu, bila ditanya apa pekerjaan utamaku, dengan tegas aku menjawab
“Saya mempersuasi orang untuk menegakkan kalimat Allah diatas muka bumi, sampingan untuk cari nafkah yaa, kadang jadi dosen matematik, marketing, kadang-kadang marketing manager”

Yah, itulah pekerjaan utamaku, tak mudah, pun juga tak susah, tapi bayarannya gede lho..

Aku pulang kerumah tepat adzan isya, shalat lalu bercanda dengan bidadariku yang sedang kesakitan, mules-mules katanya, tak lama kemudian, sekitar jam 11 aku pun meminta izin padanya untuk istirahat

“Ummi, abi mau bobo ya, dah lama banget ni nggak bobo enak hehehehe...”

“Ya udah bi, ummi sih kayaknya nggak bisa bobo, mules terus ni bi...”

Tak lama kemudian, tak ada yang kurasakan, sunyi sepi...

20.02.08

01.24 - “ABI BANGUN!”

Terkejut aku mendengar teriakan khas itu... “Ada apa um?”

“Abi air ketubannya keluar! gimana ini bi!!!”, bagiku raut panik wajah istriku lebih mengerikan daripada kata-katanya

“Ya udah ummi, nggak papa, jangan panik ayo kita ke RS”

Dengan perlengkapan yanng seadanya aku memacu kendaraanku lebih kencang dari biasanya, menembus kegelapan jakarta, dalam hati aku bersyukur keadaan tidak macet.

15 menit kemudian aku sampai di RS, dan aku bersama mertuaku menemani istriku yang hampir seluruh jilbabnya basah karena air ketuban yang pecah sebelum waktunya. Sabar, inget Allah, dia yang memberikan segala sesuatu dan dialah tempat berharap, aku menguatkan diriku sendiri...

02.00 – “pak, belum ada pembukaan”

Innalillahi... ucapku dalam hati, belum ada pembukaan?

“Sabar ya dek, insya Allah nggak akan ada apapun...”

“Tapi mules bi, sakit..”

“Iya, abi tau.. istighfar dek, inget Allah.. sekarang semua malaikat lagi mendoakan ummi dan memohon ampun buat ummi.. istighfar dek... mudah-mudahan sakit ni membuat semua dosa ummi luruh, abi selalu disini, mendoakan adek”

“Iya bi...”

Waktu berlalu begitu cepat, shubuh lewat, jam 7, jam 8, jam 9 aku menghitung waktu... Seiring dengan bertambahnya waktu, erangan kesakitan istriku bertambah keras dan memilukan. Ya Allah, mudahkanlah istriku... surat Fatihah, dan ayat-ayat Allah entah berapa kali meluncur dari bibirku... “Astaghfirullahaladzhiiiim, astaghfirulahaladzhiim, astaghfirulahaladzhiim...”

Ya Allah, sekejap, kelebatan dosa-dosaku muncul dihadapanku, Ya Allah, jangan-jangan ini semua karena dosaku... Ya Allah Ya kariim... Mudahkanlah istriku, mudahkanlah istriku...

”Allah... Abi...”

“Abi... sakit...”

“Allah...”

“Astaghfirullah...”

5 jam berlalu dengan kata-kata seperti ini, sungguh hancur batinku, melihat orang yang selama ini kucintai dan mencintaiku tanpa mampu berbuat apapun, dokter berkata katanya baru pembukaan 1 dari 10 pembukaan, dan mengabarkan bayinya lahir minimal 8 jam lagi.

“8 jam lagi!” tidak, tidak, ingkarku, 8 jam lagi menyaksikan kesakitan yang terus bertambah, lebih buruk daripada seluruh pengalamanku hingga saat ini..

Ya Allah, memang manusia ini dhaif dan mendzalimi diri sendiri dengan kedhaifannya itu.... sesalku atas dosa-dosaku...

11.00 – “Abi, sakit.... Abi ummi udah nggak kuat...”

DEG!, jantungku berderap kencang, darahku naik ke kepala seolah mau pingsan ketika mendengar kata-kata itu. Tidak, jangan kata itu yang keluar pikirku dalam hati. Bibirku kelu, fikirku berhenti, yang keluar adalah kata-kata yang tak pernah kupikirkan “Ummi pasti bisa, La yukalifuhullahu nafsan illa wusaha”

“Kalau Allah mewajibkan sesuatu maka pasti bisa kita tanggung dek!, adek pasti bisa, ucapku seraya mengusap keningnya..” Walaupun aku tidak yakin, bisakah aku menanggung sakit ini bila berada di posisinya.. Sungguh wanita sangat mulia dan sabar pikirku..

“Nggak bi, ummi udah nggak kuat lagi, ummi lemes..”

Ya Allah, tak ada nama yang lebih layak disebut kecuali diri-Mu, engkaulah pemberi harapan dan tempat meminta... mudahkanlah istriku... mudahkanlah istriku... Aku tahu, meskipun aku tak dapat melakukannya, tapi tetap saja aku berharap ‘seandainya rasa sakit ini bisa dipindahkan kepadaku’

rasa sakit itu terus berlanjut, ini kondisi terlemah selama hidupku, menyaksikan dia tanpa mampu berbuat apapun.. “Sabar dek, istighfar, inget Allah...” hanya itu yang mampu kuucapkan..

Tak lama kemudian suster datang membawa obat pengurang rasa sakit

“Alhamdulillah” istriku agak tenang, perlahan ketenangan mulai tampak di wajahnya...

16.00 – Setelah shalat dzuhur dan ashar, rupanya Allah menjawab doaku

“Qola rabbukum ud’uni! astajiblakum” (Berkattalalah Tuhanmu, berdoalah kepadaku! akan pasti akan kuperkenankan)

Alhamdulillah, pembukaaan 1-10 yang awalnya diteorikan di buku-buku selama 10 jam dijalani istriku dalam 4 jam.

“Dedeknya udah siap keluar ni, ibu latihan nafas ya...” suster berkata

Ini saatnya pikirku, kecemasan datang kembali, tapi tidak separah tadi...

“Dek semangat ya! bentar lagi jadi ibu... Inget Allah, banyak istighfar, pas ngeden ucapkan Allahuakbar!”

“Iya bi” senyum istriku dalam kesakitan

Lampu penerang dihidupkan, tempat bayi disiapkan untuk menyambut kelahiran anak pertama kami

16.15 – “Siap ya bu, ayo coba ditekan!” teriakan dokter diikuti usaha istriku “Aahhhh”

“Ya bagus! begitu bu, terus!”

“sssp...hhhh, Aaaargh!”

dua atau tiga kali istriku mengedan

“Bagus bu, udah keluar ni, dedeknya rambutnya tebel”

Ketika kulihat, Ya Allah gumpalan darah, apa itu yang dinamakan kepala? Kulihat istriku berhenti bernafas, “Dek semangat ayo dek”, dia masih saja tetap diam

“Ayo bu, kasian dedeknya kejepit nih! ayo dorong”

Sambil mengumpulkan tenaga istriku melanjutkan usahanya..

“Aargg!”

“Sekali lagi” dokter berkata

“AAAAA”

“Sekali lagi ibu, sudah bagus” lanjut dokter

Aku melihat gumpalan daging merah yang sepertinya tak mungkin keluar dari perut istriku, Ya Allah, itukah anakku...?! Kenapa dia tak bergerak...

“AAAAAArgh!”

cipratan air ketuban terakhir melumasi bayiku, keluar laksana bukan bayi, 2 detik kemudian ia menagis sambil meronta-ronta

“ALHAMDULILLAH DEK... ALHAMDULILLAH... Dek, alhamdulillah dek udah keluar... aku berteriak kegirangan

“Alhamdulillah” ucap istriku tak jelas karena keletihannya yang sangat...

Aku meninggalkan istriku yang dibersihkan untuk beralih kepada bayiku. Lengkap, sehat pikirku. Alhamdulillah...

Ia membuka matanya dan melihatku, sungguh kebahagiaan dalam hidupku. Engkau akan menjadi kebanggaanku anakku...

Setelah dibersihkan aku memperdengarkan kepadanya ayat-ayat Allah,

Nak, inilah kata-kata yang pertama kali diucapkan kepadamu “Allahuakbar!”

“Muliakanlah, besarkanlah Tuhan-Mu”

Mungkin engkau terlalu senang berada di dalam perut ibumu nak, Abi mengerti, disana engkau akan aman dari gangguan virus sekularisme, kapitalisme, demokrasi, HAM dan semua pemikiran lain yang tak pernah diajarkan Allah dan Rasulnya

Mungkin engkau disana tidak akan pernah mendapati orang yang mencemooh dan mengolokmu dikala menyuarakan Islam sehingga engkau betah berlama-lama disana

Mungkin disana belum kau dengar semacam liberalisme, pluralisme dan sekulerisme

Tapi tidak, rintihan ummi-mu dan kecemasan abi-mu telah berubah menjadi kebahagiaan saat engkau hadir di dunia ini. Disinilah engkau akan mengemban tugas sebagai “khalifah fil ardh” – pengelola diatas muka bumi.

Disinilah engkau akan berperang anakku, melawan semua pemikiran kufur, dan jangan lah khawatir, telah kupilihkan untukmu ibu yang baik dan sabar, yang akan membimbingmu di jalan-Nya

Kuharap kelak engkau menjadi seorang perempuan yang shalehah yang akan membentengi keluargamu denga Islam, kata-kata yang keluar dari mulutmu adalah Islam

Engkau akan hanya membanggakan Islam, bukan yang lain. Engkau hanya takut kepada Allah, bukan yang lain. Engkau hanya memegang panji Rasul, bukan yang lain

Kuharapkan ketika SD saat yang lain menyanyikan lagu tak bermanfaat engkau akan mendendangkan Qur’an

Kuharapkan ketika SMP disaat orang lain bermain engkau mengkaji Sunnah-Rasul

Kuharap ketika SMU disaat orang lain pacaran engkau mengenakan Jilbab dan Khimar dan berdakwah di jalan Islam

Kuharap ketika PT disaat orang lain meneriakkan “hidup mahasiswa” tapi engkau hanya ingin meneriakkan “Allahuakbar!”

Kuharap ketika berkerja disaat yang lain mengutamakan dunia engkau berorientasi pada akhirat

Kuharap engkau menemani laki-laki selevel para shahabat

dan Kudoakan engkau meninggal sebagai salah satu syahidah

Agar engkau dapat menjamin bapak dan ibumu masuk ke surga Allah yang telah dijanjikannya...

Abi dan Ummi rindu dengan panggilan Allah

Yaaa ayyatuhan nafsul mutmainnah, Irji’ii ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah

Fadkhuli fii ’ibadiii, wadkhullii jannati

Minggu, 08 Juni 2003

ADA APA DENGAN ISLAM

ADA APA DENGAN ISLAM
Felix Siauw (Muhammad al-Fatih) / 0813 1150 1178 / felix_siauw@yahoo.com

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt. pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu diantara keduanya beserta semua keteraturannya. Dialah zat dimana semua jiwa ada di tangan-Nya, Dialah sebaik-baik tempat berharap dan sebail-baik pembalas atas semua yang kita lakukan. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada pemimpin para nabi dan orang-orang bertakwa, rasulullah Muhammad saw., beliaulah sebaik-baik teladan dan contoj, dan semoga kita termasuk pengikutnya yang siap memperjuangkan apa yang dibawanya sebagaimana para shahabat melakukannya sebelum kita.
Saudaraku, ikhwan wal akhwat fil Islam, para syabab (pemuda) yang sangat saya cintai dan saya banggakan, yang perubahan terletak di tangan kita, perkenankanlah saya, manusia yang penuh khilaf dan kesalahan ini untuk sedikit menyampaikan tentang suatu hal yang amat tinggi, mulia dan besar yaitu Islam.
Ketahuilah wahai saudaraku, Islam adalah agama yang sangat sempurna, Islam tidaklah terbatas pada tuntunan agar kita sukses di akhirat, tetapi juga petunjuk sukses di dunia. Islam bukanlah agama ritual yang hanya mengatur ibadah mahdhah individu, tetapi ia pun adalah agama sosial yang mengatur masyarakat. Islam adalah satu-satunya agama sekaligus pandangan hidup (ideologi) bagi ummatnya. Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki mu’jizat hingga saat ini: al-Qur’an, yang tantangannya belum pernah ada yang menjawabnya hingga detik tulisan ini dibaca. Dan tak akan pernah bisa.
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (TQS al-Baqarah [2]:23-24)
Ada apa dengan Islam? kenapa agama yang begitu mulia, tinggi dan sempurna ini justru menjadi pesakitan? kenapa kemiskinan, kemerosotan moral, mahalnya biaya pendidikan, ketidakadilan, ketidakjujuran, kriminal, kecurangan, justru berada di kebanyakan negara kaum muslimin? Yang ketika kita melihat di negara inipun sudah cukup menyakitkan.
Padahal kita ingat dahulu kala Rasulullah menerapkan Islam di Madinah pada tahun 623 M yang bisa bertahan sampai tahun 1924 M dengan segala keluarbiasaannya, Kala itu Islam mengusasai 2/3 dunia. Kita tentu mengetahui Khalifah Umar bin Khattab yang pada zamannya di kota Madinah tiga orang guru yang mengajar anak-anak membaca al-Qur’an. diberikan gaji kepada mereka masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas). Kita pun mengenal Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang pada masanya semua masyarakat kaya sehingga tidak ada lagi yang berhak menerima zakat.
Jelas sudah, bahwa sesungguhnya ada sesuatu dari Islam yang telah hilang. Sesuatu yang dengan sengaja dihilangkan oleh orang-orang yang tidak senang kepada Islam dengan segala daya dan upaya mereka. Sesuatu yang telah hilang inilah yang akhirnya menimbulkan ketakutan (phobia) yang luar biasa kaum muslimin terhadap Islam. Sesuatu yang telah hilang ini telah menjalarkan virus ketidakpercayaan dan ketakutan pengemban da’wah Islam untuk menyuarakan Islam yang mulia. Sesuatu yang telah hilang ini pun mengakibatkan pemuda-pemuda Islam akhirnya hidup kebanyakan tanpa tujuan yang jelas, mereka menjadi seorang ilmuwan tanpa agama dan menjadi ahli ibadah tanpa ilmu dunia, tertipu oleh paradigma berfikir yang diajukan oleh pemikir-pemikir yang benci kepada Islam: ingin dunia tinggalkan agama dan ingin agama tinggalkan dunia.
Saudaraku, hidup memang tidak mudah, mempertahankan agama memang susah, tidak ada sesuatu yang baik dicapai secara mudah (instan).
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (TQS al-Baqarah [2]:214)
Saudaraku, maka bertanyalah “Ada apa dengan Islam?”, carilah sesuatu yang hilang dari Islam itu, dan kembalikanlah ia kepada kaum muslimin. ia bisa ditemukan di maj’lis ilmu (pengajian) dimanapun juga, kapanpun juga dan oleh siapapun juga, tidak hanya terbatas pada satu organisasi. Oleh karena itu, janganlah kita berhenti mencoba dan berharap untuk menemukan kebenaran itu. Dan janganlah pernah lupa: Innallaha ma ana J